Agregator Baru Zimbalam dan Melihat Kembali ‘Empowerement’ Musisi Indonesia

zimbalam-aldo-sianturi

Zimbalam baru saja memproklamirkan keberadaannya di Indonesia sebagai partner buat musisi untuk mendistribusikan karya musiknya secara global digital. Anak usaha dibawah agregator besar Believe Digital ini sangat optimis dapat membantu permasalahan musisi Indonesia menjual karyanya. Apalagi mengingat banyaknya bakat-bakat pemain musik Indonesia dan karya-karya Indonesia yang sampai saat ini hanya sekedar sebagai aktualisasi hobi tanpa kepikiran menjualnya secara luas. Zimbalam hadir seakan menjadi penengah untuk masalah ini.

Persaingan Dengan Agregator Lain

Sebagai alternatif Believe yang mengincar ‘ikan besar’, Zimbalam hadir untuk musisi kamar yang mungkin hanya punya 1-2 karya. Mematok harga dalam dolar Amerika dari $9.99 untuk satu single atau $19.99 untuk album, Zimbalam menjanjikan royalti bagi hasil 90% dari total penjualan. Cukup menggiurkan daripada menyebarkan lagunya secara gratis (ehm Net Label, hello?).

Zimbalam tidak sendirian bermain untuk mendapatkan perhatian musisi Indonesia memberikan kepercayaannya untuk menyalurkan karya digitalnya ke seluruh dunia. Secara global, ada Tunecore dan juga CD Baby yang memberikan layanan serupa. Zimbalam dengan cerdik memberikan perbandingan layanan agregasi kontennya antara para agregator tadi.

Di Indonesia sendiri, ada Musikator, Gotong Royong Musik dan sebagainya yang beroperasi untuk membantu musisi mendistribusikan karyanya secara digital. Belum lagi persaingan dengan label musik besar seperti Aquarius Musikindo ataupun Musica Studios yang juga punya akses untuk menjual lagu ke toko musik seperti iTunes dan juga YouTube MusicKey. Memang ada beberapa label seperti Virgo Ramayana atau E-Motion menggunakan layanan yang diberikan Believe untuk membantu mereka. Namun jika kita tarik benang merahnya adalah target mereka sama: mengejar konten dari para musisi.

Masalah Utama Musisi Indonesia

Sebenernya musisi punya kemenangan disini karena konten mereka dibutuhkan. Sayangnya musisi melihat musik sebagai hobi bukan sebagai bisnis yang utuh. Ketenaran yang biasanya menjadi tujuan utama baru kemudian pendapatan. Mudah dilihat contohnya dari ajang-ajang reality show yang mengiming-imingi ‘Cinderella Story’ di tiap episodenya. Tidak ada reality show yang menawarkan edukasi tentang bisnis musiknya secara jelas.

Argumen klasik ‘major vs indie’ udah gak laku. Karena mau artis yang di kontrak sama label rekaman pun harus memikirkan sendiri nasib kedepannya seperti apa. Masak iya label rekaman yang artisnya seabrek meskipun punya deal 360 degree mau mikirin satu per satu artisnya. Kalau memang ada, silahkan berargumentasi dengan gue disini. Model pareto menyebabkan label harus fokus kepada musisi apa yang bisa berkontribusi secara nyata dengan label yang menaunginya.

Sayangnya yah kebanyakan musisi gak mau repot mikirin bisnis. Musisi kamar mungkin masih mendingan karena mencoba mencari celah dengan memanfaatkan segala medium yang ada supaya lagu mereka didengar. Sayangnya masih sporadis dan tujuannya ‘supaya didengar’. Tidak lantas untuk mencari duit dengan berbisnis musik. Mungkin perlu inkubator semacam wadah diskusi sesama musisi mungkin. Mudah-mudahan adanya Prisindo bisa membantu. Yah mungkin sekarang bukan jamannya kolektif tapi lebih ke kolaborasi.

Empowerement Musisi

Zimbalam untungnya ada Aldo Sianturi yang cukup disegani di dunia permusikan Tanah Air. Dengan berbagai pengalamannya baik di industri musik, pastinya beliau sudah memetakan masalah-masalah tersebut. Apalagi Zimbalam menawarkan untuk membuka laporan pendapatan dari musik digital kepada musisi secara mendetil. Ini yang tidak pernah didapatkan saat kerjasama dengan label rekaman umumnya di Indonesia.

Tapi apa iya musisi perlu tau soal penghasilan? Apalagi bekerjasama ini diharuskan membayar dahulu, apa musisi mau berinvestasi untuk itu? Dan juga penghasilan itu soal end-result, cara untuk mendapatkanya seperti cara berpromosi, apakah musisi sudah dibekali juga? Masih banyak pe-er buat musisi Indonesia. Baca kontrak rekaman atau kontrak kerjasama dengan partner aja kadang diabaikan. Lebih kepada apa yang dijanjikan di mulut daripada tertulis.

Baik atau buruk tergantung cara pandang masing-masing. Saat ini kita semua punya berbagai cara untuk memasarkan cara dan berbagai macam partner untuk bekerjasama. Let’s embrace the new version of music business.