Beastie Boys Dan Pentingnya Kliring Lisensi Hak Cipta Untuk Iklan

hak-cipta-beastie-boys

Studi kasus musik berikut ini adalah tentang Beastie Boys dan Monster Energy Drink  yang baru saja berseteru di meja hijau atas kasus pelanggaran hak cipta. Walau Beastie Boys memenangkan gugatan atas hak cipta, ada baiknya kita dapat mengambil hikmah dari kelalaian Monster Energy Drink yang menyepelekan soal Hak Cipta ini.

Kisah Ini Bermula…

Awalnya bermula ketika Monster Energy Drink melakukan program promosi di tahun 2012 dengan menggunakan elemen musik yang diambil dari musik milik Beastie Boys. Elemen musik ini diunggah kedalam video promosi mereka. Namun versi elemen musik yang mereka gunakan adalah versi remix dari Z-Trip yang dibuat di tahun 2011 sekedar untuk seru-seruan dan dibagikan gratis sebagai contoh.

Pihak Monster sebetulnya sudah memberitahukan perihal penggunaan musik ini. Tapinya pemberitahuan ini dikirimkan kepada Z-Trip yang pada dasarnya tidak memilikii otorisasi pemberian lisensi terhadap karya musik saduran (cover) dari Beastie Boys. Apalagi jika materi lagu yang ada sample dari Beasti Boys ini dijadikan iklan komersial. Z-Trip yang diberikan materi promosi dari pihak Monster hanya menyahut, “Dope!” setelah melihat materi tersebut. Pihak Monster menganggapnya ini sebagai suatu persetujuan.

Dalam pengadilan, pihak Monster bersikukuh tidak bersalah karena yang dipergunakan adalah materi lagu dari Z-Trip. Namun keputusan juri mengatakan mereka bersalah berdasarkan Lanham Act http://legal-dictionary.thefreedictionary.com/Lanham+Act dan berakibat tuntutan membayar ganti rugi kepada Beastie Boys sebesar US$ 1,7 Juta.

False Endorsement

Beastie Boys merasa dirugikan karena merasa tidak pernah memberikan dukungan (endorsement) terhadap produk minuman energi Monster tersebut. Pihak Monster sendiri juga dipersalahkan karena males untuk mencari tau asal-usul dari lagu yang mereka ingin gunakan untuk promosi mereka. Atas ini, Direktur Pemasaran Interaktif Monster dinilai bersalah dan lalai akan tugasnya.

Capitol Records pemegang hak cipta Beastie Boys dan juga Universal-Polygram International Publishing yang memegang hak publishing lagu Beastie Boys juga akan melakukan gugatan. Dan ini diperkirkan nilainya bisa mencapai US$ 2,4 Juta diluar dari hukuman ganti rugi sebelumnya.

Kerugian yang diderita Monster ini cukup parah. Padahal promosi yang mereka jalankan adalah materi online namun rupanya hukum tidak memandang online ataupun offline. Sekalinya melanggar ya sudah harus diberi ganjarannya.

Pelajaran Berarti

Firma hukum Lewis Roca Rothgerber memberikan rekomendasi kepada kita semua agar tidak tersandung masalah seperti yang Monster alami. Tiga rekomendasi berikut rasanya memang harus diserap:

  1. Pastikan semua materi yang akan digunakan dalam berpromosi sudah dimiliki kliring terhadap hak cipta dari pihak ketiga sebelum promosi dijalankan.
  2. Alangkah lebih baik jika dalam tim pemasaran punya orang yang berpengalaman terhadap hak cipta atau mintalah bantuan hukum pada ahlinya.
  3. Dalam hal ini, berasumsi adalah suatu yang salah. Cek dan ricek penggunaan materi dalam promosi lebih baik daripada rugi.

diolah dari http://www.lexology.com/

  • Cipta

    Yang bener aja materi promosi hanya berlandaskan “Dope!”… dibutuhkan nyali luar biasa dari internal legal Monster untuk menyetujui promo tersebut untuk tayang…