Layanan Toko Music Digital: Sudah Siapkah Kita?

Ini adalah tulisan pertama dari dua tulisan bertajuk Sepercik Fenomena di Industri Musik Hari Ini yang ditulis oleh Indro di http://letdown.multiply.com/journal/item/36

Apa yang pertama terlintas di benakmu saat mendengar frasa “download lagu”?

….

Ya. Sama. Saya juga.

Mari bicara fakta: Di dunia masa kini, khususnya Asia, atau dalam kasus ini Indonesia, “download lagu” erat konotasinya dengan kata “FREE” dan “MP3”.

Bila dikembangkan lebih lanjut, kata kunci yang mengikuti adalah alamat-alamat situs populer yang menyediakan layanan file hosting/file sharingyang, tentu saja, gratis. Kita semua familier dengan nama-nama seperti Mediafire, 4shared dan Indowebster.

Mengunduh dan membayar bukanlah perpaduan kata yang populer di negara ini. Mengapa begitu?

Pertama, saya mencoba mengenang, bagaimana awal dari semua ini…

Masih ingat saat awal berkenalan dengan internet?

Pesona luar biasa yang ditawarkan dunia maya segera saja membuat kita enggan untuk pergi. Bagai membuka Kotak Pandora dan diperlihatkan hal-hal yang belum pernah kita temui sebelumnya. Dan hal-hal baru ini, tak peduli dari mana asalnya, menjadi dalam jangkauan, tiba-tiba semua hal hanya berjarak beberapa “klik” saja.

Dengan kandungan yang serba ada dan tumpah-ruah, internet menjadi candu baru. Tak lama berselang, hadirlah era Web 2.0 di mana dunia maya bukan lagi sekedar tempat mencari informasi, namun juga sarana berinteraksi dan berbagi.

Revolusi dunia maya ini disambut penggunanya dengan gegap gempita. Kegiatan file sharing yang dulunya dilakukan dengan setengah bergerilya, kini dipraktekkan dengan lebih leluasa dan tanpa rasa berdosa.

“Pelanggaran hak cipta? Apa itu? Saya cuma mendownload lagu kok. Semua orang juga melakukan hal yang sama. Siapa yang tidak?”  Para “mantan konsumen” industri musik berlenggang santai seperti tidak ada yang dirugikan, sementara yang lainnya berlindung di balik pembenaran.

Seketika, “upload” dan download” menjadi dua kegiatan utama di dunia maya. Di era “wabah” internet. Tak jarang orang mencari koneksi hanya untuk melakukan dua hal tersebut. Kegiatan yang awalnya terinspirasi sistem barter pada era awal peradaban manusia ini langsung menjadi sistem transaksi yang paling digemari. File sharing segera saja menembus popularitas yang tak terbendung.

Masih bertanya-tanya kenapa? Resapi frasa populer ini: “Kalau bisa gratis, ngapain bayar?

Bayangkan, karya seni yang rilisan fisiknya bernilai jual cukup tinggi, dengan mudah diubah menjadi bentuk digital dan dibagi-bagikan secara gratis. Tanpa ribet. Tanpa kendali. Siapa yang tak mau?

Dengan lalu lintas file sharing yang semakin merajalela, dunia maya sudah layaknya pasar gelap. Dan industri musik yang bergantung pada penjualan musik pun memasuki era yang paling… gelap.

Separah itukah?

Mari mengkaji satu fakta lagi: Tingkat kesadaran ber-internet masyarakat Indonesia dewasa ini meningkat tajam seiring dengan begitu pesatnya perkembangan layanan mobile internet yang memberikan banyak jalan untuk terhubung ke dunia maya tanpa harus berstatus sebagai orang kaya.

Siapapun, kini dapat mengakses internet kapanpun, dan (secara harafiah) di manapun. Hal tersebut tak lepas dari laju teknologi yang semakin hari semakin tak mengenal ampun. Pernah mencoba membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang yang selalu up to date? Di masa sekarang, hal tersebut bisa berarti berganti gadget tiap tiga bulan sekali.

Semakin singkatnya jeda waktu bagi sebuah teknologi dari berstatus “baru” menjadi “kadaluarsa” membuat kesempatan untuk memiliki semakin besar. Masyarakat yang memiliki daya beli tidak terlalu tinggi melihat fenomena ini sebagai situasi yang menguntungkan. Menunggu penurunan harga sebuah gadget berteknologi mutakhir kini tak se-lama dulu lagi.

Definisi “low end” bagi sebuah gadget/handset masa kini pun mengalami pergeseran arti: Ia paling tidak memiliki kemampuan untuk mengaksesinternetSekarang semua bisa menggengam perangkat pintar di tangan.

Dengan semakin terjangkaunya harga gadget dan internet, masyarakat semakin melek teknologi. Berselancar di dunia maya kini bukan lagi hanya menjadi rekreasi mereka yang berpendidikan tinggi. Mereka yang dulunya gagap kini menjadi ahli.

Singkat kata, inilah musabab dari begitu tingginya kecendurungan akses internet via ponsel di negara ini. Bisa dikatakan, bagi masyarakat Indonesia hari ini, medium paling lazim untuk mengakses internet adalah ponsel, benda “berdaya rekat” tinggi, menempel hampir permanen di tangan pemiliknya masing-masing.

Keterikatan antara ponsel dengan pemiliknya ini jugalah yang menampilkan fakta bahwa di zaman sekarang, ponsel juga merupakan medium paling digemari untuk memutar musik. Dalam hal ini, musik mengalir dari sebuah samudera bernama internet dan bermuara pada ponsel. Secara ilegal, tentunya.

Keadaan ini otomatis membuka akses selebar-selebarnya ke “pasar gelap” tadi. Para konsumen industri musik yang terkontaminasiwabah internet mayoritas bertransformasi menjadi mantan konsumen yang merasa terbebaskan dari batasan finansial.

Pada masa kritis industri musik seperti ini, para pelaku industri dipaksa untuk melalui sebuah fase yang, dalam bahasa sederhananya, “serba salah”. Berbagai upaya sudah mereka lakukan untuk memutar keadaan. Merasa percuma melawan, para pelaku industri alih strategi.

Pada akhirnya perdamaian terdengar seperti jalan keluar.

Para pelaku industri musik, khususnya dari pihak label, mulai menyadari bahwa peperangan yang mereka ciptakan tak membuat bisnis ini beranjak kemana-mana. Revolusi bisnis sedang berjalan di dunia maya dan tanpa memahami aturan-aturan yang baru, kata sukses akan selalu menjauhi industri ini. Mereka akhirnya memilih untuk menempuh jalan diplomasi dan belajar bahwa adaptasi adalah kunci.

Berniat untuk berkiblat pada cara-cara yang sudah dipakai di dunia barat, pelaku industri musik lokal mulai melakukan studi banding guna memahami apa yang selama ini luput dari pertimbangan mereka. Untungnya, seperti yang telah saya utarakan di atas, menjelajahi lain negara di dunia maya tidak memerlukan banyak gerak. Semua hanya terpaut beberapa “klik” saja.

Menyerap ide jual-beli digital dan menerapkannya di Indonesia adalah dua hal yang berbeda.

Mencoba strategi bisnis yang sudah lazim di luar negeri adalah usaha terkini dari para pelaku industri. Jika dilihat dari capaiannya, bisnis layanan toko musik digital yang sudah mapan macam Apple’s iTunes Store, Amazon MP3, Rhapsody atau MelOn.com (Korea)  terlihat  sangat menjanjikan. Tentunya, faktor geografis punya peranan besar di sini dan (sayangnya) capaian-capaian tersebut belum terbukti di negeri ini.

Di sinilah adaptasi berperan penting. Menyamaratakan keadaan dan perilaku konsumen di Indonesia dengan negara lain tentunya tidaklah sahih. Di negara yang menduduki peringkat ke-dua untuk angka pencurian kartu kredit terbesar di dunia, pengusaha layanan toko musik digital harus mencari metode pembayaran alternatif, karena transaksi online dengan kartu kredit di negara ini masih dianggap ribet, kurang merakyat dan yang paling utama, terlalu berisiko.

Lalu mencuatlah nama-nama seperti LangitMusikNokia Music dan MelOn. Tiga diantara (paling tidak) belasan pemain lokal dalam bisnis layanan toko musik digital dengan metode pembayaran non-kartu kredit.

Mengapa hanya tiga nama yang saya sebut? Sederhana saja. Pertama, sejauh pengamatan saya, tiga nama tersebut adalah nama-nama yang paling sering muncul di mana-mana belakangan ini. Kedua, tiga layanan tersebut bersangkutan langsung dengan ponsel dan operator telekomunikasi yang saya gunakan. Ketiga, waktu tidak mengizinkan saya untuk mengulas semuanya.

Lebih lanjut, tiga nama ini menurut pandangan saya sudah cukup mewakili sebagai tauladan upaya perdamaian antara industri musik dengan Revolusi Web 2.0  dalam kancah lokal.

Namun, mampukah para tauladan ini mengubah permainan? Siapkah mereka menjalankannya? Dan siapkah kita menerimanya? Tunggu bahasan tiga layanan di atas pada bagian kedua tulisan ini. 

Cinta Musik Indonesia? Terdengar Seperti Kampanye Musik Indonesia Yang Klise Ya?

Ini adalah pendapat dari Aulia Naratama tentang #cintamusik yang post aslinya bisa lihat disini http://aulianaratama.blogspot.com/2012/03/cinta-musik-indonesia.html

CINTA MUSIK INDONESIA? TERDENGAR SEPERTI KAMPANYE MUSIK INDONESIA YANG KLISE YA?

5 tahun terakhir semua orang berteriak-teriak Anti Pembajakan tetapi lapak CD bajakan malah makin menjamur. Klise.

Apa kamu Cinta Musik Indonesia? Saya yakin masyarakat sangat cinta musik Indonesia, segmen muda di kota besar cinta musik yang disuguhkan oleh band semacam Efek Rumah Kaca atau Endah N Rhesa, segmen muda yang lebih luas masih menggemari Superglad atau The Changcuters, dan Ungu atau Geisha masih disukai oleh multisegmen dari seluruh penjuru nusantara. Jangan lupakan masih banyak musisi yang masih mendapat panggung di acara seni negara-negara tetangga. Semua cinta musik Indonesia.
“Dulu anti pembajakan, sekarang download di mediafire”
Begitu yang tertulis di Twitter dengan tagar indieinsap. Bukan membicarakan orang tertentu, tetapi saya yakin ada beberapa orang yang merasakan seperti ini. Saat umur mulai bertambah dan realita kehidupan makin keras, musik yang kita cintai ini bergeser menjadi kebutuhan tersier. Membeli CD setiap minggu menjadi agenda bulanan, dan mulai berhitung ulang pengeluaran. Situs media sharing adalah jawabannya. Tetapi terlalu banyak mengunduh musik format digital dengan gratis lama-lama timbul perasaan bersalah sebagai pecinta musik Indonesia. Merasa bersalah, dan merasa seperti pembajak.
Belum lama ini, saya penasaran dengan ponsel  merk Nokia. Penasaran dengan Nokia Music yang dikembangkan sejak dua tahun yang lalu.

Nokia Music

Saat iTunes diluncurkan tahun 2001, saat itu saya berharap di Indonesia dapat merasakan teknologi seperti itu, namun circa 2003-2007 musik format digital Indonesia diselamatkan bukan oleh iTunes, melainkan Ring Back Tone. Hari ini RBT bukan lagi penyelamat, semua insan industri berdoa mencari sang juru selamat lainnya.
Nokia meluncurkan internet servis bernama Ovi tahun 2011, dengan salah satu layanannya adalah Ovi Music Store. Ovi Music Store adalah layanan untuk mengunduh musik dengan format digital full track secara resmi. Bagaimana caranya? Potong pulsa?

Dari Comes With Music, Ovi Music Unlimited, dan kini Nokia Music

Layanan download musik resmi Nokia telah berevolusi dari tahun ke tahun. Layanan yang kini bernama Nokia Music adalah penawaran yang diberikan Nokia agar pelanggan dapat mengunduh musik Indonesia berformat digital di secara gratis. Ya, gratis. Tanpa bayar. Dan tanpa batas! Hanya dengan membeli ponsel Nokia tipe tertentu, setelah itu benar-benar dapat mengunduh semua yang ada di katalog Nokia Music, dengan gratis dan tanpa rasa bersalah tentunya. Mungkin Nokia Music akan menjadi kanal alternatif untuk menyelamatkan format digital musik Indonesia

Review Nokia Music Unlimited

Halaman pertama Nokia Music di ponsel Nokia, kita akan diperlihatkan Chart tangga lagu Nokia dan daftar jenis musik. Kita juga bisa memakai layanan mesin pencari untuk menemukan lagu yang kita mau.
Saat saya coba, ada beberapa katalog yang menyita perhatian. Salah satunya adalah Chrisye – Badai Pasti Berlalu, Dewa – Pandawa Lima, Base Jam – The Best, Dewa – Format Masa Depan, Netral – Tidak Enak. Katalog lawas ini dulu sempat saya miliki dalam format kaset, dan akhirnya saya miliki dalam format digital. Dengan gratis dan tanpa rasa bersalah tentunya. Ah saya cinta musik Indonesia.
Saat menggali untuk lebih jauh, sepertinya Nokia Music hanya berfokus ke katalog musik lokal saja, untuk katalog internasional belum diperbolehkan kepada konsumen Indonesia.
Ah bukan masalah, selama katalog digital lawas ini membuat diri saya eforia. Namun, Nokia masih mempunyai banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, yaitu memperkaya katalog. Sepertinya masih banyak label musik atau musisi yang enggan menitipkan katalog terbaru-nya di Nokia Music, sehingga masih sulit ditemukan lagu terbaru dalam format digital di katalognya.
Di kategori indie, cukup kecewa juga, karena tidak ada satu band indie teman-teman saya yang bertengger disana. Padahal tahun lalu saya sempat melihat ada lagu-lagu dari White Shoes and the couples company, Navicula dan 4Peniti. Padahal saya pernah memasukkan lagu-lagu band saya, Everybody Loves Irene ke Nokia Music ini lewat aggregator TuneCore. Dengan modal 700ribu rupiah, saya mendistribusikan lagu-lagu Everybody Loves Irene ke digital music store di seluruh dunia. Sebenarnya tidak hanya di Nokia Music, Everybody Loves Irene juga jualan di iTunes, Myspace Music, Amazon MP3 dan sebagainya.  Hasilnya cukup memuaskan lho. Kita malah dapat royalti yang lumayan cukup, tidak hanya balik modal, bisa buat makan-makan syukuran untuk 6 keluarga besar di restoran mahal.
Memang saya musisi indieinsap, tapi gak pernah insap untuk cinta musik indonesia

“Dulu download dengan perasaan bersalah, sekarang download musik digital dengan bahagia” 

Penasaran dengan cinta musik indonesia? Silahkan Googling di search engine dengan kata kunci tersebut. Karena tulisan ini telah terindex di Google.co.id search engine di halaman pertama.

Bagaimana Musisi di Kemajuan Teknologi Digital?

Rusabawean peserta diskusi Akademi Berbagi Surabaya menulis tentang #CintaMusik yang post aselinya bisa dibaca di http://rusabawean.com/bagaimana-musisi-di-kemajuan-teknologi-digital.html

Apakah musisi masih bisa hidup di era transisi dan kemajuan teknologi digital? Pertanyan besar ini yang didiskusikan oleh Widi Asmoropengajar di kelas Akademi Berbagi Surabaya yang diselenggarakan di Brew & Co Surabaya Town Square Sabtu 21/4 jam 17.00 kemaren.

Owh masih ada yang belum tahu Akademi Berbagi ya? Ok Rusa perkenalkan dulu apa itu Akademi Berbagi atau yang biasa kita sebut Akber. Akber adalah gerakan sosial yang rajin berbagi pengetahuan, wawasan dan pengalaman yang bisa diaplikasikan langsung. Bentuknya adalah kelas-kelas pendek yang diajar oleh para ahli dan praktisi di bidangnya masing-masing. Kelasnya pun berpindah-pindah sesuai dengan ketersediaan ruang kelas yang disediakan oleh para donatur ruangan.

Lahir di Jakarta kelas perdana di bulan Juli tahun 2010, kini Akber sudah tersebar di lebih 30 kota di Indonesia, mulai Medan, Palembang, Jambi, Bandung, Solo, Semarang, Jogjakarta, Surabaya, Malang, Balikpapan, Makassar, Ambon, Ende, Madiun sampai Madura dll. Dan tentunya semua kelas di kota-kota itu bersifat gratis dan terbuka untuk umum. Guru dan relawannya pun tak dibayar. Keren memang ya, kita bisa belajar ilmu kepada orang yang kompeten di bidangnya dengan cara gratis.

Di Surabaya sendiri, Akber Surabaya udah eksis sejak setahun lalu, dan Rusa udah mengikuti beberapa kelasnya *Rusa ikutan eksis jadinya* sebut saja kelas Advertising dengan guru Handoko H, kelas Social Media dengan guru Pungkas Riandika dan tentunya kelas yang baru di selenggarakan di Brew & Co kemaren, dll lupa kelas lainnya :D

Kembali ke kelas Cinta Musik Indonesia, kelas kali ini adalah ngomongin tentang musik Indoensia di era digital seperti ini. Widi Asmoro guru yang merupakan Service manager di Nokia Entertainment, memulai kelasnya dengan menjelaskan sejarah lahirnya musik dunia mulai masuk dan perkembangannya di Indonesia. Beliau ini memulai dengan menjelaskan fakta-fakta sejarah seperti Thomas Edison yang menemukan phonograph pada 6 Desember 1877, lahirnya Juke Box yang ditemukan oleh Lewiss Glass pada tahun 1889 hingga pada rekaman streo dan Long Play pertama dijual pada 1958. Serta ditemukannya BASF polyester 1/8 inch tape pada 1963. Widi menjelaskan lagi tahhun 1982 audio digital 5-inch CD disk pertama dipasarkan dan tahun 1997 adalah tahun di mana situs mp3.com dibuat bulan November oleh Michael Robertson. Sampai pada akhirnya tahun 2001 muncul Nokia 5510 ponsel yang didedikasikan khusus untuk musik.

Bagaimana musik berkembang di Indonesia? Yuk simak

  • Pembuatan piringan hitam di Indonesia mulai pada akhir 1920.
  • Tahun 1957 piringan hitam long play diproduksi oleh Irama Record.
  • Awal tahun 1940 tiga ragam musik yang utam dan berkembang di Indonesia adalah Keroncong, Gambus, dan Hwaiian ditambah musik semi klasik dan klasik dari orkestra yang disukai Belanda dan kalangan elit bumiputra.
  • Awal 1950 bangkitnya musik hiburan, di masa ini lagu-lagu pop menjadi lini terdepan.
  • Awal 1960 pengaruh barat makin terasa terhadap musik Indoensia, artis terkenal pada masa itu adalah Titik Puspa, Rahmat Kartolo, Lilis Suryani.
  • Pemunculan record label di Indonesia dimulai tahun 1954
  • Indonesia absen dalam penandatanganan perlindungan hak cipta “The Berne Convention” tahun 1971.
  • Munculnya kompilasi lagu-lagu Barat yang di produksi oleh Hins Collection pada tahun 1969.
  • Pada tahun 1985, industri rekaman Indonesia mendapat kecaman dari Internasional.

Setelah menjelaskan bagaimana perkembangan musik jaman dulu, Widi mulai masuk ke bagaimana perkembangan musik di era perkembangan teknologi. Widi menjelaskan bahwa perkembangan musik sejalan dengan kemajuan teknologi. Musik erat berhubungan dengan kemajuan teknologi. Awalnya musik hanya dapat dinikmati ditempat pertunjukan/peribadatan. Sampai ditemukan teknologi Phonograph 1877 oleh Thomas Edison, lalu Radio, hingga perkembangan Vinyl, Kaset, CD dan Internet/Digital saat ini.

Kemajuan teknologi yang mengakibatkan maraknya ilegal download adalah realita yang harus dihadapi para musisi, tinggal bagaimana caranya memutar otak untuk bisa mempertahankan profesi sebagai ‘musisi’. – Astrid Sartiasari, Musisi.

Dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, di mana para peserta kelas sangat antusias tanya mengenai musik Indonesia. Ada yang tanya tentang bagaimana cara menembus kontrak rekaman, pembajakan, tentang RBT, kenapa musisi yang terkenal di luar negeri, tapi malah tidak di negeri sendiri. Sampai mengenai portal musik Indonesia.

Nokia sendiri mengeluarkan portal musik di music.ovi.com/id di mana bisa gratis download dari PC atau ponsel. Disebutkan oleh Widi bahwa layanan Nokia Music menawarkan cara baru bagi konsumen untuk menemukan dan mengunduh musik dengan mudah di mana saja dan kapan saja, yang tentunya secara total mengubah pengalaman mereka dalam menikmati musik.

Di era digital begini, di mana sangat gampang sekali mendowload mp3 bajakan di internet, berapa CD musik yang masih kamu beli originalnya? atau masih adakah di antara kalian yang  beli CD original musisi Indonesia? Pertanyaan pertanyaan itu tiba-tiba dilempar oleh Widi kepada peserta yang hadir, eh dan Rusa cuma jawab dalam hati, dalam bulan ini Rusa gak beli CD original musisi Indonesia, tapi dapat gratisan dari gerai ayam goreng, hehehe.

Dan pertanyaan terakhir muncul “Bagaimanakah cara download gratis, tapi resmi?” Jawabannya mungkin bisa ditemukan di#CintaMusikIndonesia.

#CintaMusik Indonesia …. masihkah ??

@Hellmi_ peserta diskusi Akademi Berbagi Surabaya menulis tentang #CintaMusik yang post aselinya bisa dibaca di http://hellmilikecoffee.wordpress.com/2012/04/24/cintamusikindonesia-masihkah/

Sabtu kemaren diajak temen untuk ngikutin Akademi Berbagi Surabaya, tanpa pikir panjang aku mengiyakan aja. Kebetulan topik yang dibahas kali ini adalah #CintaMusikIndonesia, dan yang mengisi materi adalah Widi Asmoro seorang music enthusiast dan editor music di Ovi Music Service Nokia. Pembahasan ternyata tentang perjalanan musik indonesia dari mulai jaman Bung Karno hingga jaman musik shifting dimana musik bisa dipaindahkan dari satu device ke device lainnya melalui berbagai alat yang semakin lama semakin berkembang, dan juga di bahas bagaimana perkembangan musik Indonesia sendiri dari masa ke masa, bagaimana tiap masa mempunyai jenis musik yang mewakili generasi pendengarnya sendiri. Oke dari sini mulai menarik perhatian saya, dimana saya tertarik dengan perkembangan musik Indonesia. Saya melihat dan ini opini pribadi saya, musik Indonesia sekarang mati suri. Saya disini bicara musik mainstream, yang menurut kuping saya sudah seragam semua musiknya, bila ada satu band atau solo yang bisa membuat karya dengan aliran musik tertentu dan ketika itu di jual ternyata meledak..laku keras, dijamin deh gak lama kemudian banyak yang akan mengikutinya. Ini juga karena industri musik sendiri, terutama media televisi. Saya jadi punya istilah sendiri ” TELEVISI YANG MEMBANGKITKAN MUSIK INDONESIA DAN TELEVISI ITU SENDIRI YANG MENENGGELAMKAM MUSIK INDONESIA”.

Sebagaimana kita ketahui dulu musik Indonesia begitu bisa jadi tuan rumah di negerinya sendiri karena media televisi, banyak acara musik di televisi yang menampilkan video klip musik indonesia, bahkan sampai ada penghargaan khusus vidio klip musik sendiri, dan dulu untuk acara musik para musisi bener-bener main secara live. Sekarang coba kita lihat10 tahun kebelakang, dimana banyak bermunculan band yang “One Hit Wonder” sekali ngeluarin album..meledak..udah terus gak tahu lagi kapan muncul album berikutnya, kalaupun dipaksa ngeluarin album, paling aman ya ngeremake lagu orang lain. Kemudian muncul juga Ring Back Tone yang pada awalnya disambut gembira para musisi, karena mereka mendapatkan pendapatan tambah dari lain. Semakin lama RBT ini, malah membuat banyak musisi membuat musik yang seadanya ( menurut kuping saya )..cukup 30 detik saja udah dapat penghasilan. Dan acara musik di televisi semakin ke sini makin gak jelas aja konsepnya, antara satu televisi satu dengan televisi lainnya menampilkan band yang sama dan tentunya dengan musik yang seragam,parahnya lagi acara musik televisi ini dengan alasan mengurangi resiko teknis, banyak yang pilih jalur aman pake lipsing atau minus one..haduh terus ini dimana asyiknya. Dan sampai saat ini hanya dua televisi yang menurut saya mempunyai acara musik yang berkonsep jelas yaitu Radio Show di Tv One dan Music + di Metro tv. Dari sini saya kemudian mikir,ini musik Indonesia mau dibawah kemana selanjutnya..apa mau stagnan kayak gini terus. Kok malah kesannya musik mainstream di Indonesia perkembangannya malah kalah jauh dengan musik Indie ya, kecuali kalo ngomong urusan penjualan album ya.

Terus apakah kemudian saya berhenti mencintai musik Indonesia. Tentu tidak walau sudah banyak berkurang,tapi masih ada beberapa musisi atau band Indonesia yang masih berkarya dengan disertai tanggung jawab pada karya musiknya. Masih banyak cara..masih banyak jalan untuk terus mencintai musik Indonesia, dengan tetap mendukung, membeli karya musik musisi / band kesukaan kita, secara tidak langsung akan membuat para musisi terus berkarya. Dan saya masih salut masih banyak musisi yang terus berkarya di tengah gempuran para pembajak dan “musik seragam”. Mereka dengan kreatif menciptakan celah untuk terus memajukan musik Indonesia. Saya sendiri berharap semoga industri musik Indonesia dapat kembali bisa menciptakan keberagaman musik lagi, agar kita para pencinta musik Indonesia semakin bertambah wawasan musiknya.

#CintaMusikIndonesia HARUS TETAP ADA SAMPAI KAPAN PUN JUA :D

HIDUP MUSIK INDONESIA

Simphoni Negeriku #CintaMusik Indonesia

Pandangan lain tentang#CintaMusik dari @dyllaHikmah peserta diskusi Akademi Berbagi Surabayayang post aselinya bisa dibaca di http://dyllasdiary.blogspot.com/2012/04/simphon-negeriku-cintamusikindonesia.html

 

Sabtu, 21 april 2012 Brew & Co Surabaya Town Square jam 15.00. sore ini kami #Akberians sebutan untuk anggota Akademi Berbagi mau belajar tentang perkembangan musik indonesia #CintaMusikIndonesia oleh Kak Widi Asmoro. Tema kali ini menarik banget karna walaupun saya bukan pemusik dan gak bisa maen musik tapi saya pecinta dan penikmat musik. Seperti biasa dikelas ini kami belajar dan sharing bersama di Akademi berbagi Surabaya, kelas dimana semua saling berbagi ilmu secara gratis dan terbuka untuk umum. Tak hanya Guru yang berbagi ilmu tapi “murid”nya pun turut berbagi ilmu di kelas setiap kelas akber.yah inilah akademi berbagi yang tak hanya sebatas guru memberi ilmu pada murid tapi murid pun berbagi ilmu pada seluruh isi kelas. Disini guru dan relawannya gak dibayar tapi hebatnya kita bisa belajar ilmu kepada “Master” di bidangnya secara gratis. Wow dimana lagi kelas gratis kalau gak di Akademi Berbagi. Emang yah berbagi bikin happy !!

Yuk kita bahas apa aja isi dari kelas kak Widi Asmoro tentang perkembangan Musik Indonesia. Dulu orang untuk menikmati musik itu harus bayar MAHAL dan hanya untuk kalangan tertentu tpi sekarang kita bisa menikmati musik dengn mudah dan murah bahkan gratis #eh. Kak Widi Asmoro seorang Service manager di Nokia Entertainment, menerapkan #JASMERAH (jangan pernah melupakan sejarah) dan mulai menjelaskan sejarah lahirnya musik dunia mulai masuk dan perkembangannya di Indonesia. Beliau juga menjelaskan fakta-fakta sejarah seperti Thomas Edison yang menemukan phonograph pada 6 Desember 1877, lahirnya Juke Box yang ditemukan oleh Lewiss Glass tahun 1889 hingga pada rekaman streo dan Long Play pertama dijual pada 1958. Serta ditemukannya BASF polyester 1/8 inch tape pada 1963. Kak Widi menjelaskan lagi tahun 1982 audio digital 5-inch CD disk pertama dipasarkan dan tahun 1997 adalah tahun di mana situs mp3.com dibuat bulan November oleh Michael Robertson. dan pada akhirnya tahun 2001 muncul Nokia 5510 ponsel yang didedikasikan khusus untuk musik. Ternyata sejarah awal perkembangan musik dari tahun ketahun sangat menarik yah sampai saat ini kita semua ada di era musik digital yang serba mudah dan menyenangkan. Terimakasih kepada semua ilmuan,penemu dan pengembang jasa kalian tak terlupakan.
Sepertinya kita semua harus bangga dengan musik indonesia jaman sekarang karna mulai menjadi raja di negeri sendiri, yah jika dulu masyarakat lebih suka menikmati musik luar negeri sekarang sudah mulai beralih dan lebih mencintai musik indonesia bahkan musisi indonesia pun sudah banyak yang membuat karya yang dinikmati banyak orang di negara lain #asik kan??
Indonesia kaya akan musik, musik indonesia beraneka warna, mulai dari musik dangdut, musik pop, musik daerah, musik keroncong hingga musik rock, semua dalam harmoni karya yang bisa kita nikmati sebagai warisan anak negeri. Aku bangga menjadi bagian negeri ini. Negeri yang memiliki beraneka warna dan melodi. Yah aku #CintaMusikIndonesia
Bersatu seirama untuk negeriku #CintaMusikIndonesia
Ini negeriku dengan semua keanekaragaman budaya
Ini negeriku dengan beraneka ragam suku bangsa
Ini negeriku dengan beraneka kekayaan kuliner khas nusantara
Ini negeriku dengan beraneka ragam warna musiknya
Ini negeriku dengan keramahan santun bahasanya
Ini negeriku dengan hijaunya alam
Ini negeriku dengan birunya lautan
Ini negeriku dipersatukan dengan kata-kata keseluruh pelosok nusantara
Ini negeriku mencintai alunan musik dalam melodi
Ini negeriku bernyanyi bersama melantunkan nada kesatuan dengan musik seirama
Ini negeriku berkarya dengan musik menciptakan harmoni menyatukan semua mimpi
Terima kasih Akademi Berbagi surabaya terutama Kak Widi Asmoro telah mengingatkan kembali betapa indahnya lika-liku perkembangan musik hingga bisa masuk ke indonesia. Walau banyak orang yang tak memandang bagaimana sejarah itu hingga saat ini tapi kini kita tahu masih banyak musisi anak bangsa yang terus berkarya dengan musik mereka untuk membanggakan negeri ini.

KAMI ANAK NEGERI HARGAI KARYA ANAK NEGERI #CINTAMUSIKINDONESIA

Bicara Musik Bicara Cinta Dan Selera

Blogpost tentang #CintaMusik  dari @sibair  peserta diskusi Akademi Berbagi Surabayayang post aselinya bisa dibaca di http://sibair.net/bicara-musik-bicara-cinta-dan-selera.html

Bicara musik seperti bicara selera bagaimana telinga kita menerima nada-nada yang kita rasa cocok dengan diri dan kepribadian personal. Singkatnya “cocok di kuping atau tidak“. Selera itu tidak bisa disamakan seperti saya merasa band “A” paling keren untuk versi saya. Lalu saya mengatakan bahwa tidak ada lagi musisi di Indonesia yang lebih baik dari lagu-lagu band “A”. Bisa saja kita merasa bahwa band “A” paling baik. Tapi, bisa juga menurut orang lain band “B” Lebih baik dari band “A”.

Semua kembali ke selera. Bagaimana kita menerima, bagaimana kita menyikapi kehadiran band-band dan aliran musik yang masuk ke Indonesia secara bergantian dengan trend pada masanya masing-masing. Sabtu lalu bertempat di Brew & Co Surabaya Town Square Sabtu 21/4/2012. Acara Akademi Berbagi Surabaya membuat kelas diskusi tengan Cinta Musik Indonesia.

Diskusi yang bertema mengenai Cinta Musik Indonesia ini di mentori oleh Widi Asmoro seorang service manager Nokia Entertainment. Berbicara tentang kondisi musik jaman sekarang. Serta antusiasme dan kegelisahaan pada shifting era yang berawal dari mendengarkan musik menggunakan kaset tape, CD lalu menuju musik-musik yang dipasarkan melalui dunia digital.

Perubahaan di Shifting era ini seakan membuat industri musik bergaung menyalahkan teknologi dan mengkambinghitamkan pergeseran perkembangan dunia musik. Dalam beberapa postingan blognya, Widi selalu menekankan bahwa teknologi hadir untuk menyempurnakan.

APAKAH MUSISI MASIH BISA HIDUP DI ERA TRANSISI & KEMAJUAN TEKNOLOGI DIGITAL ?

Perbincangan mengenai perkembangan musik berformat mp3 yang membuat penjualan kepingan CD berkurang tak akan ada habisnya. Atau belum ada habisnya. Mungkin besok, lusa, bulan depan, tahun depan, sepuluh tahun lagi atau ratusan tahun lagi mungkin baru selesai. Mengutip semena-mena dari PamanTyo “Inilah perubahan zaman. Lagu berformat MP3 tinggal ambil atau salin sehingga urusannya semata pasal dengaran – tak beda dari mendengarkan radio. Info pendukung sudah ada di internet, dan isinya lebih komplet, pun lebih interaktif daripada kemasan CD”.

Tentu saja jika ingin dibandingkan pembelian CD kepingan original dengan kumpulan mp3 sangat berbeda jauh. Misal harga per lagu Rp 5.000 jika dikompilasi menjadi paket sepuluh atau dua belas lagu jatunya Rp 50.000 – Rp 60.000. Lebih mahal dari CD Indonesia yang rata-rata Rp 35.000. Jauh lebih mahal dari CD kompilasi MP3 Rp 5.000 berisi 100 lagu. Amat sangat jauh lebih mahal dibanding mengopi dari CD dan hard disk teman sekalian numpang berinternet gratis. Saya tidak akan membahas terlalu jauh mengenai ini.

Dalam presentasinya, sore itu Widi Asmoro mulai menjelaskan sejarah perkembangan industri musik dari zaman ke zaman. Mulai dari penemuan ponograh, juke box, long play, BASF polyster 8 inci hingga kepingan CD 5 inci pada tahun 1892. Setelah itu penjelasan mengenai industri musik di era perkemabangan teknologi digital.

Serunya diskusi sore itu membuat gatal Julian Noor atau yang lebih di kenal di twitter dengan @djuleee yang notabene adalah Music Director Radio terkenal. Selama 20 tahun ia bergelut dalam dunia musik. Dalam opini-opininya yang cukup panjang, Julian noor membuat kaya akan materi sharing yang disampaikan. Seolah terdapat 2 presentasi yang sama-sama asik untuk disimak.