Transformasi Digital Topik Utama di Forum Musik Nokia Music Connects

Transformasi konsumsi musik semakin jelas arahnya kepada platform digital. Dengan data penjualan CD dan DVD semakin menurun sedangkan konsumsi musik rupanya terus meningkat dengan model streaming dan download. Ini mengindikasikan fans musik saat ini menikmati musik dengan cara yang menurut mereka mudah. Implikasi transformasi digital ini mengubah model bisnis yang lebih akomodatif terhadap perkembangan teknologi, akrab kepada inovasi dan juga terjangkau untuk dikonsumsi.

Hal-hal tersebut yang akan menjadi topik pembahasan pada Nokia Music Connects 2012 yang tahun ini memasuki tahun keempat. Forum musik ini bakal diselenggarakan di ITC Grand Central, Mumbai, India pada tanggal 6-7 November 2012. Mengundang para pelaku industri musik, penyedia platform hingga perwakilan pemerintah seperti Jyrki Rosenberg, Global Head of Entertainment Nokia,  Anthony Zameczkowski, Head of Music YouTube APAC, Shridhar Subramaniam, President Sony Music Entertainment India & Middle East, Andrew Jenkins, Universal Music Publishing International, Guy Fletcher, Chairman Performing Rights Society dan Hon Simon Crean MP, Minister for Regional Australia Regional Development and Local Government and Minister for the Arts.

Buat gue yang tahun ini menghadiri Music Matters melihat beberapa program yang disajikan kurang lebih mirip dengan Music Matters. Steve Lilywhite, produser U2, The Killers, Jason Mraz, juga direncanakan ikut mengisi disini. Namun beberapa program yang buat gue menarik adalah diskusi tentang “Music Apps: How Far Will They Go?” dan keynote tentang “Monetizing Piracy”. Dan forum ini akan fokus kepada industri musik di India ketimbang membahas hal-hal yang bersifat global.

Untuk lebih lengkapnya lagi tentang Nokia Music Connects 2012 bisa dibaca disini.

Rekap Music Matters – Hari 2

 

Puncak forum Music Matters disuguhi panel diskusi yang bergizi, sebutlah one-on-one dengan Bob Lefsetz, Lachie Rutherford, Michael Chugg dan Bob Ezrin serta hadirnya artis sebagai studi kasus seperti Indah Dewi Pertiwi dan Tiger JK.

Pagi sudah mulai terasa panasnya di Singapura dengan kritikus musik Bob Lefsetz tampil diatas panggung. One-on-one interview yang dipandu oleh Ralph Simon ini mengalir begitu saja tanpa terbendung. Bob Lefsetz yang terkenal dengan The Lefsetz Letter yaitu mailing list tentang perkembangan industri musik terutama di Amerika Serikat yang kebanyakan adalah pendapat pribadinya dipandang dari sudut pengalaman ia sebagai veteran music label dan juga lawyer. Hey, every American are lawyer, isn’t it? Lefsetz memberikan tips untuk para musisi Asia ataupun artis manager yang berada di Asia untuk memendam mimpinya dalam-dalam buat ekspansi ke Amerika. Pasalnya, orang Amerika juga nggak akan peduli dengan musik apapun yang mereka dengar. Ia mengambil rata-rata orang normal membeli CD setahunnya hanya 2 CD. Ia juga melihat peranan media Amerika untuk menyodori apa yang pantas di dengar publik Amerika akan sangat mempengaruhi apa yang akan menjadi tren. Lefsetz juga mengkritik kontrak rekaman yang ada sekarang di seluruh dunia sudah terlalu tua dan perlu penyesuaian. Dan sebagai artis harus pintar-pintar mencari nafkah di industri musik karena sebetulnya kalau mau kaya jangan jadi musisi.

Andrew Hipsley, Senior VP McDonald’s, memberikan studi kasus bagaimana sebuah brand menggunakan musik untuk menaikkan brand preference mereka di kalangan anak muda. McDonald’s perlahan namun pasti dengan program Voice of McDonald’s memberikan secercah harapan bagi anak muda seluruh dunia untuk berkarir sebagai penyanyi dengan program talent search-nya. Pidato Andrew ini membuka diskusi panel yang berjudul “I’m With The Brand”, diskusi antara brand seperti Coca Cola, Bacardi, Telkom Indonesia, label Sony Music dan artis Indah Dewi Pertiwi tentang bagaimana kolaborasinya untuk saling menguntungkan demi bisnis. Sebelumnya Indah Dewi Pertiwi memamerkan ciri khasnya untuk bernyanyi medley sebelum diskusi panel ini dimulai.

One-on-one interview kembali digelar dan kali ini Luchie Rutherford dari Warner Music Asia Pasifik memberikan visinya tentang industri musik saat ini. Perjalanan karirnya dari EMI hingga kini menjabat Presiden di Warner Music membuatnya tajam membawa Warner sebagaimana saat ini. Luchie menilai bahwa perusahaan telekomunikasi seharusnya tidak melakukan marketing musik, karena itu bukanlah spesialisasi mereka, dan biarkan perusahaan rekaman yang melakukan itu.

Setelahnya tampil diatas panggung adalah Ken Parks, Chief Content Officer Spotify, yang diwawancarai oleh Bob Lefsetz. Ken diserang dengan pertanyaan-pertanyaan dari Bob tentang bagaimana teknologi algoritma mesin pencari bisa sedemikian lugunya memberikan rekomendasi yang sering sekali tidak tepat. Misalkan seorang pengguna Spotify suka dengan Limp Bizkit lalu disodori rekomendasi berikutnya Linkin Park lalu Celine Dion. Ken berkilah bahwa teknologinya akan terus dikembangkan, mengingat katalog Spotify bisa mencapai berjuta-juta lagu bisa saja algoritma program yang sudah disiapkan salah memberikan rekomendasi, apalagi jika metadatanya tidak tepat.

Music Matters kali ini juga disuguhi dengan hadirnya promotor Michael Chugg dan Neil Warnock. Mereka membahas peranan promotor dan agen artis dalam industri musik saat ini. Promotor mempunyai posisi strategis dalam mengembakan sebuah band atau artis dan menghadirkannya secara nyata kedepan penonton di seluruh dunia. Sedangkan agen yang kesehariannya berada di lapangan bisa menjadi faktor pendorong untuk artis bisa sukses di dunia hiburan. Keduanya bisa membangun sebuah band atau artis menjadi mega star dengan hubungan jangka panjang dan terbinanya rasa saling percaya.

Seth Goldstein, Chairman turntable.fm menggunakan kesempatan Music Matters ini untuk mengumumkan rencananya ekspansi ke Asia. Diskusi panel kembali digelar, kali ini menghadirkan start-up atau digital entrepreneurs seperti Rara.com, Soliton Music dan Valleyarm dengan Venture Capitalist. Dari panel ini terkuak pentingnya pengetahuan ekonomi dan investasi disamping pengetahuan mengembangkan teknologi. Dan juga perlu dipahami bahwa saat ini subcription model adalah bisnis model yang paling banyak digemari konsumen serta kemudahan dan user interface yang nyaman yang akan membuat sebuah produk dari digital entrepreneur dilirik oleh konsumen.

Sebagaimana kita ketahui bersama saat ini, musik Korea sedang menjadi tren dimana-mana. Maka Music Matters menghadirkan sebuah panel yang membahas lebih dalam tentang Korean Wave dengan Tiger JK yang merupakan mbah-nya musik Korea, Rob Schwartz dari Billboard, Chan Kim, Fluxus Music dan Razmig Hovaghimian, Viki.com. Ruangan ballroom Ritz Carlton Milenia langsung penat dengan kehadiran fans-fans Tiger JK yang ingin turut menyimak panel diskusi ini. Korean wave ini didukung oleh gigihnya mereka berpromosi lewat internet. Dan juga dengan kerendahan hati mereka mau lebih dekat dengan penggemar-penggemarnya diseluruh dunia dengan menggunakan bahasa lokal negara setempat. Nggak heran Tiger JK yang sering kali nge-tweet dalam Bahasa Indonesia juga mendapat hati fans-fans nya di Indonesia, meskipun lagunya pun jarang sekali diputar di radio-radio Indonesia.

Meningkatnya jumlah konser di kawasan Asia juga mendapat jatah panel diskusi tersendiri. Disini Paul Dankemeyer dari Java Festival Director menekankan pentingnya menyertakan artis lokal dalam sebuah konser-konser artis internasional. Karena itu akan membawa efek emosional penonton setempat untuk datang dan membeli tiket demi mendukung local-heroes mereka disandingkan dengan artis Internasional.

Music Matters ditutup dengan sangat gemilang dengan kehadiran produser handal Bob Ezrin. Bob yang sukses menemukan Alice Cooper saat umurnya masih beranjak 20 tahun tak henti-hentinya melahirkan karya-karya produksi terbaik di dunia. Salah satunya adalah Pink Floyd “Another Brick In The Wall” yang menjalani proses produksi terpanjang dan membuat mereka pindah-pindah studio demi mendapatkan hasil terbaik. Bob Ezrin juga menggunakan kesempatan ini untuk lebih dekat dengan musisi-musisi di Asia. Sebuah kehormatan tersendiri yang digunakan oleh Singapore Music Society untuk mendapat kurasi dari produser handal kelas dunia. Bob Ezrin yang sehari sebelumnya menyelenggarakan workshop menerima banyak CD sample dari artis-artis yang ikutan disana. Seusai workshop ia memberikan waktunya khusus untuk mendengarkan CD tersebut satu demi satu. Ia mengkritik salah satu band yang memberikannya CD tetapi ia butuh waktu sekitar 10 menit untuk membuka CD tersebut, “Jangan biarkan fans kamu bekerja lebih keras untuk menikmati musikmu,” pesannya tegas.

Music Matters tahun ini usai digelar. Diprediksi akan lebih banyak lagi layanan musik digital yang akan segera diluncurkan di kawasan Asia, misalkan turntable, Spotify dan juga iTunes. Segera menyusul forum musik yang bakal digelar juga tahun ini yaitu Nokia Music Connects yang akan diadakan di India dan gelaran seperti Music Matters akan perdana diadakan di Bali Indonesia bekerjasama PT. Telkom Indonesia. Banyak hal yang dapat dipetik dari forum-forum semacam ini, yang tentunya buat saya sudah tidak sabar mengaplikasikannya sekembalinya ke Jakarta.

 

Turntable.fm Segera Dibuka Untuk Asia

Seth Goldstein, Chairman turntable.fm, memanfaatkan momennya di Music Matters 2012 untuk mengumumkan rencana membuka geo-lock turntable.fm untuk Asia Pasifik. Saat ini akses turntable.fm hanya untuk wilayah Amrik. Seakan paham betul trend di Amerika untuk menggunakan turntable.fm sebagai social music networking sedang sangat tinggi-tingginya, ia dan 13 orang dari timnya ingin memperluas layanan website ini ke kawasan Asia.

Mengantongi lisensi global dari major label seperti Sony Music dan Universal sejak Maret 2012, ia sangat yakin dapat meluncurkan layanannya ini di kawasan Asia Pasifik tahun ini. Dengan pengalamannya memanfaatkan artis dan sosial media untuk membesarkan jaringan turntable tanpa kucuran dana iklan dan marketing, ia percaya dapat mengulanginya lagi di market Asia. Wajar sih, dengan tingginya orang Asia menggunakan sosial media tentu saja ini bukan hal yang sulit. Apalagi dengan kenyataan kalau orang dengerin musik pasti ingin pamer taste musiknya ke orang lain dan ingin sekali taste nya itu diberikan nilai Kudos!

Turntable tengah menyiapkan segala sesuatunya untuk ekspansi global ini. Diantaranya dengan menambah kemampuan akses turntable.fm di platform-platform lainnya dan juga dengan partnership dengan banyak label-label lokal.

Rekap Music Matters – Hari 1

Music Matters hari ini dibuka dengan penuh suka cita. Diskusi tahunan pelaku industri musik ini telah memasuki tahun kedelapan semenjak diselenggarakan pertama kalinya di Hongkong. Jasper Donat, Presiden & Co-Founder Branded Ltd, mengungkapkan ada sekitar 1200 partisipan, 175 pembicara dan ada 40 artis atau band yang akan tampil. Pesertanya pun kebanyakan adalah level-level pengambil keputusan di perusahaan dan terutama perusahaan yang bergerak di industri hiburan ataupun pertunjukan.

Music Matters kali ini adalah juga yang kedua diadakan di Singapura. Jasper memberikan momen pembukaan ini kepada Singapore Music Society (SGMUSO) untuk meresmikan terbentuknya komunitas musik Singapura. Graham Perkins, Presiden SGMUSO, naik ke mimbar didampingi oleh Dany Loong, co-founder Timbre dan Aarika Lee, vokalis grup band SIXX untuk mengumumkan berdirinya komunitas ini dan juga memberi selamat kepada Music Matters untuk penyelenggaraan diskusi kelas internasional ini. Saya mencoba menyelinap untuk bertemu Aarika dan bertanya langsung tentang komunitas musik yang dibentuknya ini. Saya rasa Indonesia juga perlu belajar dari mereka dalam membentuk komunitas sejenis untuk sama-sama membangun industri musik dan hiburan tanah air.

Diskusi hari pertama langsung dibikin panas dengan kehadiran manager Lady Gaga, Troy Carter, yang diinterview one-one-one oleh Michael Schneider, CEO Mobile Roadie. Banyak lontaran pertanyaan seputar penolakan konser di Jakarta dan Manila. Namun yang terpenting dari intervie ini adalah trik Troy dalam membangun artis-artis yang berada dibawah menejemen nya, Atom Factory seperti Lady Gaga, Greyson Chance dan Mindless Behavior. Troy mengungkapkan kehadiran record label disaat ini bisa dipandang perlu atau tidak tergantung dari objektif dan ukuran kesuksesan yang mau di dapat sejauh mana. Troy yang juga menghabiskan waktu hampir satu tahun di Sillicon Valley hanya untuk mendapatkan jawaban untuk teknologi apa selanjutnya yang dapat membantu artis-artisnya berkembang. Pentingnya menjaga fans untuk tetap menyukai seorang artis dapat dibina dengan tetap konsisten menjalani proses-proses pengembangan dari artis itu sendiri. Ia mencontohkan Lady Gaga yang hanya dalam waktu singkat dapat seterkenal sekarang. Padahal baginya Lady Gaga masih dalam tahap pengembangan, bahkan belum mencapai tahap artis yang terbilang matang (established). Cara menjaganya adalah dengan berusaha dekat dengan para penggemarnya dan jujur terhadap seni yang dihasilkannya. Contoh dari Lady Gaga untuk dekat dengan fans nya adalah dengan menghabiskan waktu lebih lama di kota tempat konser berlangsung untuk memahami apa yang dirasakan para fans nya secara langsung. Jujur dalam seni yang dihasilkannya adalah dengan memanfaatkan teknologi yang ada sesuai dengan kebutuhannya. Ia menyadari teknologi konser artis hologram sangat memungkinkan sang artis untuk tidak melakukan konser dan datang ke kota pertunjukan secara langsung. Namun bukan pengalaman seperti itu yang saat ini Troy rasakan diperlukan bagi fans Gaga.

Selain Troy Carter, Music Maters hari ini juga hadir mantan gitaris Megadeath yang sudah lama menetap di Jepang, Marty Friedman. Diskusi yang dipandu oleh Ken Ohtake, Presiden Sony Music Publishing Japan, membahas fenomena musik Jepang yang sedang digandrungi juga diseluruh dunia. Catatan saya, perbedaan kemajuan musik di Jepang dan Korea agak sedikit berbeda. Korea lebih banyak berfokus pada penampilan dari artisnya dan bagaimana peran sebuah music label bukan hanya sebagai produser tetapi juga sebagai artist breeding. Untuk Jepang, banyak orang menyukainya karena faktor musiknya yang sangat aneh dan nyeleneh. Marty menunjukkan progresi kord C-G-Am-Bm yang umum dilakukan banyak artis di dunia dengan variasi masing-masing, di Jepang progresi ini menjadi sangat panjang dan variatif. Untuk mencapai satu bar misalkan diperlukan banyak  kord-kord tambahan yang akibatnya membuat sang vokalis tidak dapat mengembangkan variasi vokal. Karena akan terdengar sangat riuh jika vokal dan melodi terlau banyak improvisasi. Malahan dengan gaya vokal yang pasrah mengikuti melodi inilah yang kemudian banyak digemari. Di Jepang, peran produser musik sangat penting dalam membentuk sebuah produk yang matang dan gampang dijual. Kejelian penulis lagu dan komposer menyusun nada-nada hook dan monumenta; di (sebutlah) 15 detik pertama akan sangat menentukan untuk naiknya sales lagu dalam format digital ringtone. Meskipun secara umum market CD di Jepang tidak turun secara signifikan, namun kecendrungan masyarakatn Jepang menggunakan ringtone sebagai identitas diri semakin tumbuh subur.

Selain Jepang, fokus diskusi hari ini ada kepada pasar musik di Cina. Ada dua diskusi panel yang saya ikuti yang menyinggung tentang industri hiburan disana. Yang pertama adalah keynote interview Ralph Simon, CEO Mobilium Advisory Group, dengan John Meglen, President & Co-CEO Concert West/AEG Live. Sebagai promoter konser dan juga pemilik banyak arena, John melihat pasar Cina sangat potensial. Disana ia berhasil membangun dua arena yaitu Mercedes-Benz Arena di Shanghai dan Mater Card Center di Beijing. Arena yang dibangun ini bukan hanya untuk pertunjukkan musik namun bisa juga sebagai sarana olah raga seperti basket dan hockey. Yang pasti dengan adanya arena semacam ini, ia melihat akan semakin banyak konten kreatif yang bisa dihasilkan. Misalkan video pertunjukkan, rekaman pertandingan dan banyak hal lainnya. Ia mengistilahkan arena ini sebagai content campus. Di panel lainnya yang menampilkan pelaku industri hiburan di Cina seperti label musik Beggars, penyedia konten video Kinetic One ataupun juga Baidu melihat Cina adalah market yang kritis dengan potensi keuntungan yang masih dapat dikembangkan lagi. Peranan pemerintah dalam hal ini Departemen Kebudayaan di Cina sangat penting apalagi dalam hal memberikan restu sebuah pertunjukkan. Apabila sebuah pertunjukkan tiba-tiba dibatalkan pemerintah dalam 24 jam artinya kelalaian tersebut ada di pihak promotor penyelenggara pertunjukkan. Pemerintah Cina cukup adil memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas dan tentu saja petunjuk ini harus ditaati para promotor pertunjukkan.

Dalam panel “20/20 Visionaries Interview Series” yang dipandu Ted Cohen, Managing Partner TAG Strategic, menampilkan Mike Babel, Head of Global Music Initiatives, Nokia. Mike mengungkapkan peranan strategis Nokia dalam menyediakan platform digital untuk konten hiburan bagi para pengguna ponsel Nokia. Dalam Music Matters tahun ini, Nokia memamerkan Nokia Music yang bisa diakses lewat ponsel seri Asha dan seri Lumia. Kemampuan terdepan untuk discovery musik-musik baru berdasarkan musik yang sering didengar pengguna Nokia Lumia dimanjakan dengan adanya Mix Radio. Pengguna disodori lagu-lagu yang masih selaras dengan lagu-lagu yang pernah dia putar. Atau bahkan pengguna dapat menjelajah lagu-lagu baru dari pilihan-pilihan radio yang telah tersedia. Layanan discovery music ini dapat digunakan secara gratis tanpa perlu membayar, namun untuk memiliki lagu dan mendownloadnya dibutuhkan metode pembayaran.

Usai Music Matters hari ini para peserta diboyong ke Clarke Quay untuk ajang networking yang lebih erat sambil menyaksikan panggung Music Matters Live. Band Indonesia yang tampil malam ini adalah The Aftermiles yang akan sepanggung bersama Ubiquitous Synergy Seeker (USS) asal Kanada. Jangan lupa, besok kita akan menyaksikan Indah Dewi Pertiwi yang tak hanya tampil melainkan ikut bicara soal artist dan brand. Kita lihat saja.

 

Ngobrol Singkat Dengan Singapore Music Society

Hadirnya sebuah perhimpunan yang memiliki kepentingan dan juga tujuan yang sama memang perlu apalagi ditengah tidak menentunya industri musik saat ini. Kehadiran sebuah perhimpunan yang berisikan artis, manager, event organizer, atau siapapun yang bergerak di industri musik dan hiburan sangatlah berarti.

Gue mencoba menilik langsung Singapore Music Society (SGMUSO) yang hari ini baru diresmikan di pembukaan Music Matters 2012. Berbincang dengan Aarika Lee dan Kevin Lester, anggota perhimpunan SGMUSO ini yang juga merupakan artis personel grup musik Sixx. Kevin memaparkan dengan adanya perhimpunan ini maka ia sebagai artis merasa terlindungi. Meskipun luas wilayah Singapura yang tidak seluas Indonesia, terkadang tiap artis ataupun manager jalan sendiri-sendiri. Ini dikhawatirkan akan merusak industri musik yang coba terus dibangun di Singapura.

Singapore Music Society memiliki Presiden yaitu Graham Perkins yang berpengalaman di MTV, Adobe dan juga Apple. Dengan dibantu koordinator Nooraini Yunos, SGMUSO telah berafiliasi dengan label indie di Singapura seperti KittyWuRecords, Slate Entertainment dan juga menejemen artis seperti Bedsty Group.

Tidak seperti Indonesia yang kehadiran label-label independen seakan menjadi ancaman label lainnya. Perang dingin ini menyebabkan kemajuan di pergulatan musik bawah tanah saat ini semakin lambat. Diperparah lagi dengan kondisi geografis Indonesia yang banyak dihadang laut dan gunung. Padahal animo publik pecinta musik Indonesia terhadap artis-artis non-mainstream terbilang cukup tinggi dan ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar. Jadinya, artis-artis yang diasuh kapital yang besar biasanya yang selalu jadi pemenang untuk merasuk ke daerah. Dan lainnya bisanya misuh-misuh di Twitter tanpa solusi nyata mau bikin apa. Padahal satu sama lain bisa dapat saling melengkapi.

Mudah-mudahan kita bisa belajar dari tetangga kita Singapura. Aarika menyebutkan bahwa band mereka pernah berkolaborasi dengan Maliq & D’essentials dan membuka diri untuk berkolaborasi lagi dengan artis-artis Indonesia lainnya. Karena menurutnya, dengan kolaborasi-kolaborasi semacam itulah memungkinkan dirinya untuk ditemukan kembali dengan penggemar-penggemar baru. Bukan tidak mungkin saling bertukar penggemar.

Yuk mari kita berkumpul, mungkin starting pointnya buat yang minat atau setuju ide terbentuknya perhimpunan musik Indonesia boleh lah tinggalkan pesan di komentar box di bawah ini, atau email saja ke saya: asmoro_w@yahoo.com.