Berkreasi Kembangkan Music Apps Dengan Bekal Nokia Music API

nokia music api

Dalam sebuah event untuk developer Build 2012 di Redmond, Washington, Amrik awal November lalu, tim developer dari Nokia Music memeragakan akses terhadap Nokia Music API. Panel yang dibawakan oleh Matthew Cooper dan Steve Robbins ini membedah akses terhadap jutaan lagu lewat Nokia Music API. Akses ini memungkinkan para developer atau pengembang aplikasi berkreasi membuat aplikasi musik atau aplikasi lainnya yang dapat memanfaatkan musik yang ada di katalog Nokia Music.

Nokia Music API ini mendukung dua macam fungsi yaitu sebagai Music Discovery dan Music Information Retrieval. Untuk Music Discovery, API ini akan membantu penggunanya mencari musik yang sesuai dengan seleranya. Juga akan membantu mencari musik sesuai dengan kata kunci yang diberikan. Serta memberikan panduan kepada pengguna untuk mendapatkan musik berdasarkan rekomendasi dan juga tangga lagu.

Keunggulan menggunakan Nokia Music API ini diantaranya adalah mengurangi kerumitan dalam membangun aplikasi. Terutama untuk mendapatkan informasi mengenai artis dan lagu yang banyak dalam satu waktu dari berbagai sumber telah disederhanakan kedalam platform Nokia Music. Karena Nokia Music sendiri merupakan layanan musik yang mencakup lebih dari 3 juta artis lokal dan internasional serta memiliki gudang lagu sebanyak 20 juta lagu dari berbagai belahan dunia.

Selain itu, pengembangan aplikasi musik dengan menggunakan Nokia Music API ini juga dapat mendukung fitur Near Field Communication yang ada di Windows Phone 8. Berikut ini adalah slide share mengenai NFC di Windows Phone 8. Atau bisa kunjungi situs http://nfcinteractor.com

Buat kamu yang tertarik mengembangkan aplikasi dengan menggunakan Nokia Music API silahkan saja kulik kode selengkapnya disini.  Dan jangan ragu lagi untuk segera bergabung menjadi Nokia Developer di https://www.developer.nokia.com/Profile/Join.xhtml .

Tonton juga video presentasi dari Matt & Steve memeragakan coding dengan Nokia Music API di http://channel9.msdn.com/Events/Build/2012/2-031.

Survey Membuktikan 49% Remaja Tidak Suka Membeli Musik

remaja membeli musik

Dalam sebuah survei yang dilakukan oleh Stageoflife.com ditemukan ada 49.2% remaja di Amerika Serikat tidak suka membeli musik. Meskipun demikian, para remaja tersebut setuju bahwa musik memberikan peranan secara emosional terhadap keseharian mereka. Banyak remaja menggunakan musik sebagai tempat curahan hatinya. Bahkan tidak sedikit remaja memutar musik untuk momen-momen kenangannya seperti menjadi soundtrack saat ciuman pertama.

Musik memang sangat penting dalam kehidupan mereka namun remaja masa kini sudah tidak lagi ingin membayar untuk musik. Dari survey tersebut ditemukan bahwa remaja dalam mendapatkan musik adalah dengan cara menyalin file musik dari teman, mendownload lagu dari website yang menyediakan link gratisan atau mendengarkan musik secara streaming lewat layanan seperti Pandora atau radio internet.

Kemudahan akses mendapatkan musik gratisan atau dengan model ‘try before you buy’ menjadi faktor penyebab remaja tidak lagi membeli musik. Mark Mulligan dari Forrester Research menyebutkan generasi ini sebagai Transition Generation yang mana memiliki waktu banyak untuk mengkonsumsi musik.

Kehadiran layanan musik streaming yang terasa gratis juga dilihat sebagai faktor pemicu lainnya. Nielsen Music 360 tahun ini mengeluarkan laporannya yang berkesimpulan 64% remaja menikmati musik melalui layanan YouTube. Membandingkan dengan data dari EMI Insight yang menyebutkan 49% remaja di dunia usia 16-20 tahun mendengarkan musik lewat layanan musik streaming begitu pula dengan 41% mahasiswa usia 21-24 tahun memiliki kecedrungan sama. Ini adalah gelombang berikutnya dari fans musik yang akan menghargai sebuah karya melalui cara-cara gratisan.

Daya beli dan akses terhadap musik adalah dua hal yang gue simpulkan mengapa angka remaja yang tidak suka membeli musik itu cukup tinggi. Hal serupa juga terjadi di Indonesia. Meskipun belum ada riset resmi mengungkap tentang hal ini, remaja-remaja di Indonesia mencari musik yang tanpa mengeluarkan biaya. Layanan-layanan resmi seperti YouTube dan Nokia Music yang memberikan akses musik gratis sangat diminati. Meskipun harus bersaing dengan layanan musik gratisan yang bersifat ilegal.

Fakta-fakta lain dari Stageoflife.com adalah: hanya 2% remaja mengeluarkan anggaran hingga $50/bulan untuk membeli musik sedangkan 38.7% lainnya hanya membeli 1 buah album musik saja perbulan. Selain itu, 34% remaja menyukai musik yang juga disukai oleh orang tuanya. Dan musik yang mereka sukai biasanya direkomendasikan oleh teman atau lewat blog musik.

Digital Mindset Buat Musisi Indonesia Sangat Diperlukan

digital mindset buat musisi indonesia

Musisi Indonesia rasanya sangat diperlukan mengembangkan digital mindset guna menyikapi kehadiran Nokia Music, Apple iTunes dan beberapa layanan musik digital skala global lainnya belakangan ini. Musisi perlu mengembangkan inisiatif digital lebih giat lagi guna berjualan musik. Kali ini gue berbagi beberapa tips guna mengembangkan digital mindset buat para musisi.

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di-blog mas Aldo Sianturi http://aldosianturi.com/widi-asmoro-digital-mindset-buat-musisi-indonesia/

Sebagai penggemar musik, kita semua selalu mencari lagu-lagu buat didengar. Lagu tersebut bisa saja lagu baru ataupun lagu-lagu rilisan lama yang sesuai dengan mood. Biasanya proses penemuan lagu-lagu ini dibantu oleh medium radio atau televisi. Namun di era teknologi digital super cepat, komputer dan internet telah menjadi medium yang dapat membantu menemukan lagu-lagu yang kita mau dengar. Demikian pula buat musisi. Biasanya musisi setelah memproduksi sebuah karya ingin sekali agar karyanya dapat segera dinikmati para penggemarnya.

Sorry to say, bila melalui medium radio ataupun televisi proses penyampaian karya kepada penggemarnya melalui tahapan yang lumayan panjang. Pengalaman gue saat bekerja sebagai Radio Promotion menemukan proses tersebut menjadi beberapa tahap yaitu: pengiriman materi lagu lewat pos atau kurir karena berbentuk CD atau kaset, sampai di radio harus masuk ke meja resepsionis sampai akhirnya menumpuk di meja music director, lalu music director radio bersangkutan menyeleksi materi sample tersebut agar sesuai dengan style siaran radionya, lalu memasukkan ke dalam playlist radio untuk diputar dan akhirnya menunggu sampai penyiar memutarkan lagu yang dikirimkan tadi saat jam siaran. Proses yang cukup memakan waktu dan melalui rantai yang panjang.

Untungnya sekarang ada teknologi komputer dan internet yang dapat memudahkan proses distribusi dan juga memudahkan kita menemukan lagu-lagu untuk didengar. Musisi dapat segera memperdengarkan karyanya kepada seluruh penggemarnya setelah memproduksi lagu baru dan penggemar musik sekarang memiliki kesempatan untuk mendengarkan lagu apapun yang mereka mau tanpa harus dikontrol oleh pihak tertentu. Tunggu, komputer disini jangan hanya dibayangkan sebagai kotak besar CPU desktop tetapi ini adalah micro chip yang dibenamkan kedalam gadget yang kita gunakan sekarang seperti tablet atau ponsel.

Berkutat di New Media dan Digital Business selama 10 tahun terakhir, gue melihat pentingnya musisi Indonesia untuk melek soal teknologi ini dan punya sebuah digital mindset. Banyak yang selama ini menyerahkan tugas ‘printilan’ini kepada label mereka dan tahu beres tinggal terima hasil. Padahal, sebenarnya banyak opportunity yang bisa didapat apabila mau meluangkan sejenak untuk memperhatikan hal-hal detil guna memudahkan penggemar musik kita menemukan lagu lewat teknologi internet.

Oke, mungkin sampai sini loe akan mengira gue mensponsori gerakan pembajakan di internet. Bukan! Bukan itu. Lihat skala besarnya bagaimana pendengar musik sekarang dalam mencari dan menemukan lagu. Mereka yang masih menggunakan media tradisional televisi dan radio untuk menemukan lagu baru akan memperdalam pencarian lagu mereka menggunakan search engine di internet seperti Google. Peranan media sosial seperti Facebook dan Twitter memberikan fans musik untuk mendapatkan rekomendasi dari apa yang sedang didengarkan teman-temannya di jejaring sosial. Bahkan kehadiran social music platform seperti YouTube, LastFM hingga TurntableFM juga menambah kemudahan dan keragaman hasil pencarian lagu.

Ada beberapa tips yang bisa gue bagi agar musisi Indonesia tidak tertinggal dalam pergelutan agar lagu yang mereka produksi dapat ditemukan oleh para pendengar musik, yaitu:

1. Lengkapi Metadata yang terdapat pada file lagu digital.

Metadata adalah informasi terstruktur yang isinya mendeskripsikan tentang informasi yang, dalam hal ini, terdapat dalam sebuah lagu. Biasanya kalau didalam file MP3 kita menyebutnya sebagai Tag ID3 Informasi itu bisa merupakan: nama artist, judul lagu, genre, artwork, kode lagu atau ISRC code, penulis lagu, label rekaman dan juga publisher. Beberapa platform social music mengandalkan informasi dari metadata ini guna memberikan rekomendasi kepada penggunanya. Metadata juga berguna apabila file lagu kamu disalin ke berbagai media atau dikopi ke orang lain, informasi-informasi mengenai lagu dan composer lagu tetap ada dan ikut tersalin saat disebarkan.

2. Nama artist sebagai brand yang harus dipertahankan

Lebih baik menggunakan nama yang unik, lebih dari satu kata dan berhati-hati terhadap simbol seperti tanda apostrof (‘),asterisk (*) atau tanda baca lainnya. Ini penting banget untuk menarik lalu lintas pada sistem pencarian di search engine saat pendengar musik mencari nama atau lagu kita di Inernet. Beberapa platform social music dan toko musik digital kadang kesulitan memberikan query yang relevan jika terdapat kode-kode yang seperti itu. Kalau memang nama artisnya ingin menggunakan karakter yang unik, sekalian saja menggunakan karakter Cina ataupun karakter Arab. Sayang, sampai saat ini gue belum menemukan karakter honocoroko sampai saat ini digunakan pada platform musik yang umum.

3. Website Official.

Memiliki akun di Twitter dan Facebook tidaklah cukup. Website official yang di-host sendiri merupakan hal mutlak yang wajib dimiliki musisi sekarang. Dengan adanya website yang di-host-sendiri membuat kita punya kontrol penuh terhadap informasi yang resmi yang akan disebarkan. Tentunya juga akan meminimalisir terjadinya outage atau failed whalehingga hilangnya info-info penting yang sudah dikumpulkan di web, seperti nasib penggusuran Multiply dan juga meredupnya popularitas MySpace.

4. Social presence di situs jejaring social.

Jadilah bagian dari kehidupan para pendengar musik di jejaring sosial. Sebutlah platform-platform popular seperti Facebook, Twitter, Soundcloud, Instagram dan sebagainya. Jadilah yang efektif dalam menggunakan jejaring sosial ini dengan tidak perlu hadir disemuanya, cukup yang penggunanya banyak sesuai dengan target pendengar yang dituju. Bangunlah komunikasi yang intens dan tidak melulu memaksakan menjual lagu. Jadilah bagian bukan penjual.

5. Distribusikan secara digital.

Dibagikan secara gratis lewat website official atau bekerja sama dengan media lain bisa menjadi pilihan. Namun diluar sana sudah banyak toko musik digital yang mampu memberikan keuntungan bisnis ketimbang hanya kepopuleran. Sebutlah iTunes, Nokia Music, Spotify, Amazon MP3, Pandora, Jango hingga YouTubelewat program partnership. Bila kesulitan untuk menghubungi toko musik digital tersebut dapat melalui aggregator seperti Valleyarms atau yang local adaIM:Port. Di Indonesia sendiri, toko musik digital yang juga beroperasi di lebih dari 30 negara lainnya sudah ada yaitu Nokia Music.

 

Ingat, pasar musik kamu bukan lagi hanya Indonesia melainkan kampung dunia. Melalui optimalisasi seperti tips diatas dapat membantu visibilitas musik kamu pada para pendengar musik. Dan dengan terus meningkatkan kesadaran digital mindset, musik yang dihasilkan tak hanya dapat mendatangkan kepopuleran tetapi juga peningkatan ekonomi.

Kolaborasi Green Day, Nokia Music dan AT&T Hadirkan Konser serta Playlist Ekslusif

Green Day dalam rangka peluncuran album terbarunya, Uno, berkolaborasi dengan Nokia Music dan juga operator telekomunikasi AT&T di Amerika. Menurut press release dari Nokia, kolaborasi mereka akan berupa konser eksklusif dan daftar putar lagu eksklusif yang hanya bisa dinikmati oleh pelanggan AT&T dan pengguna Nokia Lumia. Kolaborasi ini juga sebagai tanda peluncuran layanan free music streaming Nokia Music di Amerika.

“Saya mengajak semua untuk mencoba Nokia Music dan membuktikan sendiri betapa menyenangkannya layanan ini untuk digunakan,” seru Jyrki Rosenberg, VP Entertainment Nokia.

Konsumen Nokia Lumia dapat melakukan streaming musik di Nokia Music yang punya lebih dari 150 playlist eksklusif yang dikuratori oleh para musikologis dari Amerika. Layanan Nokia Music ini bebas iklan dan tidak memerlukan pendaftaran ataupun berlangganan. Tambah lagi, layanan streaming ini dapat disimpan secara offline sehingga kenyamanan mendengarkan meskipun koneksi jaringan sedang tidak bagus namun dengar musik jalan terus.

Lebih jauh lagi tentang kolaborasi ini akan dikabarkan di ajang Nokia World yang berlangsung 5 September 2012, sesaat lagi.