User Generated Content dan fenomena Keong Racun

Hasil obrol-obrolan dengan mas Rahadian semalam berhasil menyeret saya untuk kembali lagi menulis di multiply. Obrolan seputar fenomena keong racun yang tak lain adalah duo mojang Bandung yang melejit akibat keisengannya bergaya didepan kamera dan diunggah di YouTube. Entah mana yang memicu duluan, apa itu Kaskus atau Majalah Hai atau Infoteinment yang akhirnya membawa mereka terkenal ke pelosok negeri, hingga dunia.

Dalam eranya, YouTube memang ditasbihkah sebagai media untuk menunjang kreatifitas dan juga mempertontonkan didepan umum. Semua orang bisa beraksi dan mengunggahnya supaya setiap insan bisa melihatnya. Istilah kerennya, user-generated content, atau isi yang dibuat oleh penggunanya.
Asal berani dan percaya diri (juga tetap memegang norma). Tidak perlu editor atau panelis untuk menentukan aksinya layak atau tidak. Tidak perlu drama melankolis untuk menaikkan rating. Dan indahnya, semua orang bisa berkomentar dan tidak perlu biaya SMS untuk menghakimi aksinya ini layak atau tidak, tinggal tulis saja.
Sayangnya, user-generated content membawa pisau bermata dua. Dari sisi kreatif, jelas ini memancing orang-orang untuk membuat aksi yang menarik dilihat. Seperti contoh, cek MysteryGuitarMan yang aksinya menampilkan teknik video editing yang ciamik ditambah permainan alat musik yang oke. Atau lihat KurtHugoSchneider seorang produser musik, masih muda, yang mengajak temannya meng-cover lagu-lagu populer. Keduanya sekarang selain terkenal, mereka juga punya ‘nafkah’ yang layak. MysteryGuitarMan ditanggap untuk menyutradai iklan TV dan KurtHugoSchneider dengan Sam Tsui sukses di iTunes sebagai performer.

Sisi yang lain, karena tidak adanya kontrol dari editor ataupun panelis ataupun produser, kerap aksi-aksi di YouTube ini tidak bisa dibilang bagus sekali. Yah contohnya si Sinta dan Jojo “Keong Racun” ini deh. Dari segi kualitas video, jelas nggak. Saya belum nemu video mereka yang tanpa ada watermark. Dari segi aksi, semua orang bisa melakukan lipsync tidak ada yang istimewa. Coba bandingkan dengan aksi Gamaliel & Audrey ini. Mengertikan maksud saya?

Tapi apa yang membuat Sinta & Jojo jadi ‘talk-of-the-town’? Saya melihatnya dengan kembali ke kultur masyarakat Indonesia. Orang Indonesia suka yang sederhana tidak terlalu ‘blink-blink’ dan jujur. Gampangnya lihat saja bagaimana ramainya rumah makan kaki lima, meskipun restoran yang higienis memasang harga yang sama, tapi kebanyakan orang Indonesia akan minder duluan masuk ke restoran yang kesannya terlalu rapih dan mewah. Atau lihat bagaimana Sheila on 7, Very “AFI”, Tukul dan Presiden SBY mengambil hati orang Indonesia lewat simpati.


Sinta & Jojo membawa unsur kesederhanaan & kejujuran itu. Kami suka melihatnya karena mereka juga menghibur. Jadi sebetulnya tidak perlu marah-marah kalau melihat mereka sering dibahas di TV. Atau tidak perlu marah-marah menanggapi artis-artis di Inbox, Dahsyat dan sejenisnya yang tampil lipsync. Tidak perlu marah-marah kenapa sinetron dengan tema yang sama masih saja menghias layar TV. Yang jelas, semua itu terasa Indonesiana sekali 😉
komentar lama klik

Studi Kasus Angels and Airwaves: Fight Free with Free

Pelajaran saya minggu ini adalah dari band Angels And Airwaves. Minggu ini grup band ini merilis album baru lewat http://bit.ly/9KURz7 yang dibagikan secara gratis. Di bawah tombol download di situsnya ini, mereka memberikan keterangan yang berbunyi:

This album is free for you. If you like it and want to put some money towards it, we would be grateful for your support. In fact, as our way of saying thanks, we’ll give you an exclusive song remixed by Mark Hoppus of blink-182!  If you don’t want – or aren’t able – to contribute, then please accept the album free of any charge.You don’t even have to give us your email address.

Menurut gue ini satu bentuk perlawanan para musisi terhadap keadaan sekarang. Fight free with free. Dimana karya-karya mereka selalu jadi korban pembajakan atau perbuatan ilegal dan dilawan dengan memberikan gratis. Kalo gue liat sih ini rasanya memang sudah seperti putus asa, yang akhirnya membiarkan album barunya digratiskan. Pelajaran dari In Rainbows nya radiohead pun menghasilkan kalo kebanyakan yang mendownload album ini hanya akan membayar dengan harga minimum.

Yang dilakukan Radiohead dan Angels and Airwaves dengan menggratiskan albumnya bukan tanpa perhitungan pastinya. Gue yakin, dengan reputasi dan nama band yang sudah dikenal, aksi ini akan menambah perhatian orang-orang kepada meraka. Efek domino pun segera berdatangan, media pasti akan menulis aksinya ini ke seluruh penjuru dunia dan setidaknya undangan untuk manggung di negara lain pastinya sudah ngantri.

Gue gak yakin kalo bakal ada banyak band baru yang coba meniru2 aksi ini dan mengharapkan hasil yang sama.

Bisnis musik makin berkembang, udah bukan soal berapa banyak album yang terjual, tapi bagaimana mendapatkan perhatian publik sehingga dirinya bisa dijual. Mau pakai cara apa menjualnya, itu yang perlu kreatifitas.

 

komentar lama klik